image
Renungan

“PENDETA & JEMAAT:

MANUSIA & PERSEKUTUAN YANG RINGKIH DAN RAPUH”

(Pdt. Audra Stivani Rumsayor)

“Pendeta & Jemaat : Manusia & Persekutuan yang Ringkih dan Rapuh”. Demikianlah saya memberikan judul untuk refleksi sederhana yang tertuang melalui tulisan ini, yang secara khusus saya persembahkan kepada seluruh warga jemaat GKP Jemaat Cimahi. Hari ini, Minggu, 28 Juni 2020, tepat 5 (lima) tahun saya telah menjalani proses belajar saya sebagai seorang manusia, seorang pelayan, dan seorang Pendeta Jemaat di GKP Jemaat Cimahi. Saya tidak memiliki apapun yang dapat saya nyatakan sebagai syukur saya kepada Tuhan; dan saya pun tidak memiliki sesuatu yang dapat saya berikan sebagai ungkapan terimakasih saya kepada seluruh warga jemaat yang telah menerima saya selama 5 (tahun) lamanya.

Seorang rekan pendeta dan sahabat saya, Pdt. Yosephine Yunita Dewi, , sempat mengajukan sebuah pertanyaan kepada saya, ketika  kami merayakan 5 (lima) tahun penahbisan kami sebagai pendeta GKP pada tanggal 15 Juni 2020 yang lalu. Beliau bertanya, “Apa arti GKP Jemaat Cimahi bagi saya. Sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat menyentuh dan berkesan! Jadi, pada kesempatan berharga ini, saya ingin membagikan jawaban saya atas pertanyaan itu kepada kita sekalian.

Bagi saya secara pribadi, saya tidak pernah membayangkan akan menjadi Pendeta Jemaat di  GKP  Jemaat  Cimahi.  Ketika  saya  kuliah  teologi,  saya  sering  mendengar  “cerita kurang baik”  tentang  jemaat  ini. Penuturan  orang-orang  tentang  karakter  jemaat  ini sesungguhnya membuat saya takut, sehingga saya memulai masa vikariat saya pada tanggal 29 September 2013 di jemaat ini dengan rasa tidak percaya diri. Walaupun saya memulai proses masa  vikariat  saya dengan  rasa  takut, tetapi  saya  tetap  bersyukur,  Tuhan menolong  saya sampai saat ini. Tuhan menghadirkan banyak “kejutan” yang membuat saya merasa bahwa melayani   jemaat   ini   adalah anugerah Allah. Apa   yang   kelihatan   di   awal  seolah  tidak menyenangkan, namun justru di sana ternyata ada rahmat dan berkat yang tersembunyi dan yang membentuk saya.

GKP Jemaat Cimahi adalah cinta pertama saya yang membuat saya harus tetap bertahan untuk hidup, mengabdi, dan berkarya. Dalam proses bertahan itu situasi dan kondisi yang saya alami beranekaragam. Kadang-kadang saya mengalami suka, kadang duka, kadang sakit, kadang sehat, kadang gagal, kadang berhasil. Saya lahir sebagai seorang pendeta jemaat dari rahim GKP Jemaat Cimahi. GKP Jemaat Cimahi menjadi ibu yang melahirkan dan mengasuh saya dengan cinta kasih yang besar.

Di Jemaat ini saya bertemu dengan orang orang baik yang selalu mengajar, mendoakan, memberi, menopang bahkan mengkritik saya. Saya belajar banyak hal tentang kependetaan dan hidup bergereja di jemaat ini; saya belajar banyak hal yang baik maupun hal yang kurang baik. Semua itu sangat berharga dalam hidup saya. Jemaat ini mengajarkan saya bahwa ekspektasi manusia terkadang tidak harus sejalan dengan realitas yang dihadapi. Itulah hidup yang harus diterima dan dirayakan. Hal itu membuat saya belajar bahwa dalam melayani saya tidak dapat menyenangkan semua orang dan tidak semua orang harus menyenangkan saya.

Sebagai  Pendeta  Jemaat,  saya  merasa  belum  berbuat  banyak,  bahkan  saya  tidak berbuat banyak untuk jemaat ini. Ada banyak sekali kekurangan dan keterbatasan yang harus diperbaiki dari hari ke sehari. Dalam kacamata saya, GKP Jemaat Cimahi memiliki karakter yang unik karena  sangat majemuk, dan sebenarnya jemaat punya potensi besar untuk menjadi lebih baik dari hari ini. Selama menjalani pelayanan sebagai Pendeta Jemaat, saya berusaha untuk  dapat  menanam  atau  pun  menyiram  tetapi  saya  sangat  sadar  dan  yakin  bahwa pertumbuhan sebuah jemaat sampai menghasilkan buah, itu bukanlah kedaulatan saya, melainkan semata-mata merupakan kedaulatan Allah saja. Di tengah segala hal menyenangkan yang paling menyenangkan dalam proses perjalanan saya melayani selama 5 (lima) tahun sebagai Pendeta Jemaat adalah saya melihat Allah berkarya melalui GKP Jemaat Cimahi, khususnya dalam upaya mendewasakan dan memandirikan sebuah Pos Kebaktian GKP menjadi sebuah Jemaat, yaitu GKP Jemaat  Cipatat. Sebuah perbuatan dan karya Tuhan  yang akan terus terlukis dalam sejarah kehidupan Gereja Tuhan hari ini dan di sepanjang masa.

Hari ini, saya bersyukur, karena kalau saya dapat sampai di hari ini, yakni dapat mengakhiri masa pelayanan saya di jemaat ini, tentu bukan karena kemampuan apalagi kehebatan saya. Sesungguhnya saya hanyalah seorang Pendeta Jemaat yang ringkih dan rapuh. Sebagai Pendeta Jemaat, kadang saya lelah dan lemah, kadang saya bingung dan pusing, kadang saya putus asa dan tidak berdaya, kadang saya gelisah dan resah, kadang hati saya perih dan pedih, kadang saya takut, sedih dan sepi. Sebagai Pendeta Jemaat, saya juga adalah manusia, yang ringkih dan rapuh, mudah sakit. Ringkih berarti lemah, kecil dan rentan. Rapuh berarti mudah rusak, mudah robek, dan mudah remuk, mudah pecah dan patah. Itulah saya sebagai manusia. Bahkan hidup saya sebagai manusia seperti telur di atas tanduk yang kapan saja bisa jatuh dan pecah. Bahkan pandemic Covid-19 saat-saat ini membuat saya menyadari betapa saya dan kita semua mudah kena wabah dan bencana serta musibah. Kemarin kita bisa sehat, tetapi hari ini atau besok kita bisa saja dirawat di Rumah Sakit.

Kehidupan seorang Pendeta Jemaat tidak selamanya kuat, hebat, kaya raya, berhasil, dll. Ada satu sisi yang seringkali dihindari bahkan di lupakan oleh seorang pendeta yaitu bahwa kehidupannya itu memang rapuh. Sebagai seorang manusia biasa, seorang pendeta lahir dan memulai kehidupan dari kerapuhan. Di tengah kerapuhan itu, saya belajar menggantungkan diri saya kepada Tuhan. Di satu sisi, sebagai manusia saya mengeluh kepada Allah tentang segala duka dan derita yang saya alami dalam melayani, namun di sisi yang lain, saya bersyukur dan bersukacita karena saya dapat menggantungkan diri saya yang rapuh ini kepada Tuhan dan Ia memelihara hidup saya dan jemaat. Meskipun rapuh, saya masih dapat terus melayani, eksis dan bertahan.

Bahkan sebagai seorang pendeta jemaat, saya pun melayani jemaat atau gereja yang rapuh. Sejarah Gereja membuktikan bahwa cikal bakal GKP Jemaat Cimahi pun dimulai dari beberapa orang saja, yang mungkin saja bisa habis kalau Tuhan tidak menyatakan rahmat-Nya. Apabila Gereja dapat hadir saat ini untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua orang, itu tentu karena cinta kasih Allah bukan karena kehebatan pribadi atau sekelompok manusia. Oleh sebab itu, sebagai manusia dan sebagai gereja, kita perlu menyadari kerapuhan kita dan belajar menghargai kehidupan yang masih Allah berikan kepada kita sebagai pribadi dan sebagai persekutuan orang yang percaya

Harapan saya, setelah saya pindah, GKP jemaat Cimahi –dalam penggembalan sejawat saya, Pdt Aam Ramelan Sairoen– harus terus bertumbuh dan berbuah dalam keberagaman yang nampak dari perbedaan suku/etnis, budaya, status sosial, status ekonomi, status pendidikan, pekerjaan, hobi, minat, dll. Di tengah keberagaman itu, GKP Jemaat Cimahi harus belajar dua hal sebagai jemaat pemberiaan Tuhan: Pertama, GKP Jemaat Cimahi harus belajar mengakui segala kerapuhan kepada Allah; dan Kedua, dalam segala kerapuhan itu GKP Jemaat Cimahi belajar bergantung sepenuhnya kepada Allah, Sang Pemelihara yang penuh kasih dan setia. Dua hal ini sangat penting untuk dilakukan atas dasar sebuah kesadaran bahwa  karena di tengah kehidupan ini tidak ada manusia yang sempurna , maka  tentu  saja  tidak ada juga organisasi Gereja/Jemaat yang sempurna.

Kehidupan ini memang rapuh, persekutuan pun rapuh, pribadi pun rapuh. Namun jika kita mau mencintai kehidupan, persekutuan dan pribadi, maka kita pun harus berani “berdamai” dengan kerapuhan. Artinya, kecintaan kita itu tetap dengan sikap hati yang terus bergantung erat kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Inilah uniknya hidup manusia dan gereja beriman, sebab justru dalam kelemahan karena kerapuhan itu, kita akan semakin belajar bergantung erat pada sang Tuan, pemilik ladang. Saya sungguh meyakini apa yang juga diyakini oleh Rasul Paulus yang tercatat dalam Surat 2 Korintus 12: 9. “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih banyak kepada :

Seluruh Warga Jemaat GKP Jemaat Cimahi mulai dari anak-anak sekolah minggu, kaum remaja kaum muda, kaum ibu, kaum bapak, serta para sepuh, yang telah memberikan cinta selama 5 (lima) tahun saya  melayani  jemaat  ini.  Saya  belum  dapat  melakukan  kebaikan  untuk  saudara/i  semua selama saya melayani. Ada banyak kerapuhan dan ketidakidealan saya selama melayani di jemaat  ini. Kiranya apa  yang  baik dari  saya dapat dikenang dan yang  tidak baik menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk belajar menjadi manusia dan jemaat yang semakin baik dan semakin memuliakan Allah, bukan dengan mulut tapi dengan perbuatan nyata. Saya percaya Tuhan Allah, Sang sumber berkat itu, akan terus memberkati seluruh warga jemaat dengan cinta dan kasih-Nya yang tidak pernah berkesudahan.

Majelis Jemaat GKP Jemaat Cimahi atas kerjasama dan cinta kasih yang telah diberikan kepada saya selama ini. Tuhan memberkati pelayanan saudara/i semua agar setia di jalan Tuhan. Saya memohon maaf jika selama melayani ada banyak sekali kerapuhan saya yang mengganggu  saudara/i  semua. Doa dan harapan saya “Teruslah berkarya dengan apa yang kita miliki untuk menyenangkan hati Tuhan dan bukan sekadar menyenangkan hati manusia.”

Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan atas kerjasama dan perhatian yang telah diberikan kepada GKP Jemaat Cimahi dan juga kepada saya. Kiranya Tuhan terus memberikan hikmat untuk dapat melayani dan menghadirkan gerak kebersamaan yang penuh cinta kasih di lingkungan GKP, ekumenis, kemasyarakatan, serta dunia.

Saya hendak mengakhiri tulisan sederhana ini dengan mengutip sebuah kalimat yang indah yang ditulis oleh Pdt. Joas Adiprasetya. Kalimat ini sungguh menguatkan saya dan saya berharap kalimat ini pun akan menguatkan saudara/i semua:

“Kita mungkin adalah hamba-hamba yang kecil dan tak berarti di atas dunia yang dimotivasi oleh efisiensi, penguasaan, dan sukses. Namun, ketika kita menyadari bahwa Allah telah memilih kita dari kekekalan, mengutus kita ke dalam dunia sebagai orang-orang yang terberkati, menyerahkan kita pada penderitaan, maka tak dapatkah kita juga percaya bahwa kehidupan kita yang kecil akan berlipat ganda dan mampu memenuhi kebutuhan orang lain yang tak terhitung jumlahnya?”

Demikianlah refleksi sederhana saya sebagai  manusia yang ringkih dan rapuh, yang kecil dan tak berarti ini. Dalam momentum yang berharga ini, saya menaikkan doa kepada Allah agar dalam segala kerapuhan kita sebagai manusia dan gereja, kita terus percaya dan bergantung hanya kepada Tuhan. Allah di dalam Kristus Yesus merahmati kita dengan cinta kasih-Nya dari sekarang sampai selama-lamanya.

GKP Cimahi, 28 Juni 2020 Pdt. Audra Stivani Rumsayor

Comments are closed.